Video you tube

Loading...

rss

Rank Widget

About Me

Foto saya
Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia
Tuhan ku selalu merindukanmu

Searching blog

Kampus Pomosdaku Tercinta..........

Ternyata Seni dan Kreasi itu Butuh Perjuangan

Rabu, 25 Mei 2011

Sosok Pemimpin Visioner

Kepemimpinan visioner, adalah pola kepemimpinan yang ditujukan untuk memberi arti pada kerja dan usaha yang perlu dilakukan bersama-sama oleh para anggota perusahaan dengan cara memberi arahan dan makna pada kerja dan usaha yang dilakukan berdasarkan visi yang jelas (Diana Kartanegara, 2003)

Kepemimpinan visioner, adalah pola kepemimpinan yang ditujukan untuk memberi arti pada kerja dan usaha yang perlu dilakukan bersama-sama oleh para anggota perusahaan dengan cara memberi arahan dan makna pada kerja dan usaha yang dilakukan berdasarkan visi yang jelas (Diana Kartanegara, 2003).

Kompetensi Pemimpin Visioner

Kepemimpinan Visioner memerlukan kompetensi tertentu. Pemimipin visioner setidaknya harus memiliki empat kompetensi kunci sebagaimana dikemukakan oleh Burt Nanus (1992), yaitu:
1. Seorang pemimpin visioner harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan manajer dan karyawan lainnya dalam organisasi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance, encouragement, and motivation.”

2. Seorang pemimpin visioner harus memahami lingkungan luar dan memiliki kemampuan bereaksi secara tepat atas segala ancaman dan peluang. Ini termasuk, yang plaing penting, dapat "relate skillfully" dengan orang-orang kunci di luar organisasi, namun memainkan peran penting terhadap organisasi (investor, dan pelanggan).

3. Seorang pemimpin harus memegang peran penting dalam membentuk dan mempengaruhi praktek organisasi, prosedur, produk dan jasa. Seorang pemimpin dalam hal ini harus terlibat dalam organisasi untuk menghasilkan dan mempertahankan kesempurnaan pelayanan, sejalan dengan mempersiapkan dan memandu jalan organisasi ke masa depan (successfully achieved vision).

4. Seorang pemimpin visioner harus memiliki atau mengembangkan "ceruk" untuk mengantisipasi masa depan. Ceruk ini merupakan ssebuah bentuk imajinatif, yang berdasarkan atas kemampuan data untuk mengakses kebutuhan masa depan konsumen, teknologi, dan lain sebagainya. Ini termasuk kemampuan untuk mengatur sumber daya organisasi guna memperiapkan diri menghadapi kemunculan kebutuhan dan perubahan ini.
Barbara Brown mengajukan 10 kompetensi yang harus dimiliki oleh pemimpin visioner, yaitu:

1. Visualizing. Pemimpin visioner mempunyai gambaran yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dan mempunyai gambaran yang jelas kapan hal itu akan dapat dicapai.

2. Futuristic Thinking. Pemimpin visioner tidak hanya memikirkan di mana posisi bisnis pada saat ini, tetapi lebih memikirkan di mana posisi yang diinginkan pada masa yang akan datang.

3. Showing Foresight. Pemimpin visioner adalah perencana yang dapat memperkirakan masa depan. Dalam membuat rencana tidak hanya mempertimbangkan apa yang ingin dilakukan, tetapi mempertimbangkan teknologi, prosedur, organisasi dan faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi rencana.

4. Proactive Planning. Pemimpin visioner menetapkan sasaran dan strategi yang spesifik untuk mencapai sasaran tersebut. Pemimpin visioner mampu mengantisipasi atau mempertimbangkan rintangan potensial dan mengembangkan rencana darurat untuk menanggulangi rintangan itu.

5. Creative Thinking. Dalam menghadapi tantangan pemimpin visioner berusaha mencari alternatif jalan keluar yang baru dengan memperhatikan isu, peluang dan masalah. Pemimpin visioner akan berkata “If it ain’t broke, BREAK IT!”.

6. Taking Risks. Pemimpin visioner berani mengambil resiko, dan menganggap kegagalan sebagai peluang bukan kemunduran.

7. Process alignment. Pemimpin visioner mengetahui bagaimana cara menghubungkan sasaran dirinya dengan sasaran organisasi. Ia dapat dengan segera menselaraskan tugas dan pekerjaan setiap departemen pada seluruh organisasi.

8. Coalition building. Pemimpin visioner menyadari bahwa dalam rangka mencapai sasara dirinya, dia harus menciptakan hubungan yang harmonis baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Dia aktif mencari peluang untuk bekerjasama dengan berbagai macam individu, departemen dan golongan tertentu.

9. Continuous Learning. Pemimpin visioner harus mampu dengan teratur mengambil bagian dalam pelatihan dan berbagai jenis pengembanganlainnya, baik di dalam maupun di luar organisasi. Pemimpin visioner mampu menguji setiap interaksi, negatif atau positif, sehingga mampu mempelajari situasi. Pemimpin visioner mampu mengejar peluang untuk bekerjasama dan mengambil bagian dalam proyek yang dapat memperluas pengetahuan, memberikan tantangan berpikir dan mengembangkan imajinasi.

10. Embracing Change. Pemimpin visioner mengetahui bahwa perubahan adalah suatu bagian yang penting bagi pertumbuhan dan pengembangan. Ketika ditemukan perubahan yang tidak diinginkan atau tidak diantisipasi, pemimpin visioner dengan aktif menyelidiki jalan yang dapat memberikan manfaat pada perubahan tersebut.

Read More......

Senin, 19 April 2010

Syahadah






Dalam pengalaman empirik, kita juga lazim melihat terjadinya penerusan tugas kepada ahlinya. Misalnya, jika seorang guru sejarah meninggal, temntu pihak yang berwenang yang mengurusi pendidikan akan menunjuk orang lain yang ahli dalam sejarah untuk meneruskan tugas mengajar sejarah, dan tidak dibiarkan kosong tanpa guru dengan alasan sudah ada buku-buku tentang sejarah. Atau jika guru pengajar matematika meninggal, pihak yayasan pasti segera mennjuk orang yang ahli matematika untuk bertugas menggantikannya. Demikian pula jika seorang kepala desa tertentu meningal dunia, maka ia akan segera digantikan oleh orang lain dan tidak dibiarkan kosong tanpa kepala desa meskipun desa itu sudah memiliki aturan-aturan kedesaan. Logika kita mengatakan, tugas tidak ikut mati ketika pribadi yang mengemban tugas wafat. Jika dalam masalah-masalah ilmu (sejarah, matematika dll) atau dalam masalah urusan sosial politik selalu ada penerusan tugas dari pengemban tugas terdahulu kepada penerusnya, lebih-lebih dalam hal ilmu hakekat yang menjadi dasar membangun sebuah kepribadian yang normatif menurut arahan dan bimbingan maula, penerusan tugas merupakan bagian dari tuntutan ilmu hakekat itu sendiri.


Pelajaran lain tentang kehidupan yang dapat kita ambil dari Kitab Suci agama Islam, dan juga dalam agama-agama lain mapun dari beberapa faham falsafah, bahwa kehidupan manusia itu telah berlangsung semenjak sebelum alam empirik ini, dalam alam empirik ini, dan nanti setelah alam empirik ini. Mungkin kita bisa mengkonsepsikan dengan alam “pra empirik, masa empirik dan psot empirik”, atau dalam ungkapan lain yang lebih terkenal, dari alam dzar, alam dunia dan alam akherat. Sebuah garis kehidupan yang tidak terputus.

Manusia sebelum terlahir ke dunia empirik telah mengenal Tuhannya (syahadah), demikian informasi dari Al Quran. Dan kini kita mengantarkan manusia agar dapat mengenal kembali (Syahadah kepada Tuhannya) di saat hidup di alam empirik ini, Tuhan tidaklah membiarkan manusia dalam kebingungan mencari-cari Tuhannya sebagai dorongan fitrah manusia tanpa bimbingan dariNya, melainkan Dia mengutus salah satu dari hamba-hambaNya untuk tujuan mengingatkan manusia agar mengenal ulang Tuhannya sebagaimana dahulu di saat alam dzar mereka telah mengenal-Nya. Dan setelah menjalani kehidupan di alam empirik ini manusia yang bisa mengenal kembali Tuhannya melalui para RasulNya bisa bertemu lagi denganNya. Situasi bisa bertemu denganNya ini digambarkan sebagai puncak kebahagiaan manusia di kehidupan akherat nanti.
Read More......

Pembawa Tugas Syahadah : Nabi dan Rasul






Kita semua mafhum bahwa membaca syahadah dengan lafal “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasul Allah” menjadi rukun pertama agama Islam. Ini artinya ada kemungkinan terjadinya syahadh (penyaksian) manusia kepada dzat Tuhan Allah di dunia ini sebagaimana telah terjadi penyaksian manusia kepada Dzat Tuhan di alam dzar. Sebab kata “syahidna” dalam ayat Al Quran diatas dengan kata “Ashadu” dalam lafal syahadah sebagai rukun Islam berasal dari akar kata yang sama, “Syuhud” yang punya arti “menyaksikan” atau “bersaksi”.


Di dalam logika al-Ghazali yang ditulis dalam kitab Ihya Ulumuddin juz 3 dinyatakan, iman (percaya) yang didasarkan atas penyaksian sendiri lebih mantap disbanding dengan iman yang hanya didasarkan atas berita-berita dari orang lain.

Lebih lanjut Al-Ghazali membagi jenis iman lengkap dengan penjelasannya menjadi tiga, pertama, imannya orang-orang awam yang hanya didasarkan atas berita-berita dari orang lain. Kedua imannya kaum mutakallimin yang melengkapi imannya dengan beragam dalil, dan ketiga imannya kaum ‘arifun billah’ yang didasarkan atas syahadah dengan penuh keyakinan. Melalui logika analogis ia memperlengkapi penjelasan tentang tingkat-tingkat keyakinan dengan mengajukan satu contoh konkrit tentang keyakinan bahwa “Zaid ada di dalam rumah”.

Pertama, kamu mendapat informasi dari pembantunya yang selama ini dikenal jujur dan tidak berbohong. Ia mengatakan kepadamu bahwa tuan Zaid ada di dalam rumah. Mendengar berita dari pembantu tersebut kamu meyakininya meskipun kamu tidak mendengar sendiri tuan Zaid. Inilah perumpamaan imanya orang-orang awam yang hanya didasarkan berita yang mereka peroleh dari bapak ibu mereka bahwa Allah itu wujud, punya sifat-sifat dan af’al dan mereka tidak meragukan pemberitaan dari ibu bapak mereka. Iman semacam ini bisa membawa mereka memperoleh kebahagiaan di akhirat, akan tetapi mereka tidak masuk golongan orang-orang yang muqarrabin (mungkin yang dimaksud Al Ghazali adalah orang-orang yang dekat kepada Tuhan) karena cahaya keyakinan tidak menembus ke dalam hati mereka. Dan kemungkinan jatuh ke dalam kesalahan sangat terbuka bagi mereka.

Tingkat kedua, kamu mendengar sendiri ucapan tuan Zaid akan tetapi posisimu berada di balik tembok rumahnya (kamu tidak menyaksikan tuan zaid dengan mata kepalamu). Dari mendengar ucapan Tuan Zaid inilah kamu berdalil bahwa tuan Zaid di dalam rumah. Dan iman dalam tingkatan ini lebih kuat dibanding iman yang hanya didasarkan atas pemberitaan orang lain.

Tingkat letiga, kamu masuk sendiri ke dalam rumah tuan Zaid dan kamu melihat dan menyaksikan tuan Zaid dengan mata kepalamu. Inilah hakekat ma’rifat dan musyahadah yang sangat meyakinkan setaraf dengan ma’rifatnya orang-orang muqorobin dan para shidiqin di mana mereka beriman atas dasar penyaksian (syahadah). Inilah tingkat kualitas iman yang lebih kuat disbanding kedua tingkat sebelumnya.

Hamka membuat ilustrasi iman orang-orang awam yang oleh al Ghazali dikatakan sebagai mudah jatuh kepada kesalahan. Dalam ilustrasinya, Hamkan menampilkan contoh orang awam dari desa yang oleh suatu dorongan tertentu pindah ke perkotaan. Orang ini sewaktu tinggal di desanya dikenal sebagai orang yang rajin menjalankan ubudiah agama. Dan kini setelah di kota, ia harus menghadapi sejumlah tantangan seperti kebutuhan hidup sehari-hari yang tidak mudah, kerasnya persaingan hidup, benturan emosi, benturan kepentingan, keinginan, nafsu, kemewahan kita, akan menjadi hadangan yang boleh jadi membelokkan iman awam mengikuti kecenderungan hidup memburu kebutuhan dan kepentingan duniawiyah. Gejala awalnya bisa jadi ketika datang waktu shalat zhuhur ia tidak segera mengerjakan shalat sebagaimana masih tinggal di desa. Dari gejala sederhana ini berlanjut sampai dengan berani meninggalkan shalat karena tuntutan pekerjaan dan kebutuhan yang jika tidak ia kejar, kesempatan itu akan hilang dan sulit ditemukan kembali kesempatan semacam itu. Boleh jadi karena pergaulan ia mulai berani minum minuman keras atau mengkonsumsi obat-obat terlarang dengan alas an solidaritas kawan atau desakan kawan padahal selama tidak pernah ia lakukan di desa.

Tingkat kedua, adalah imannya kaum mutakallimin, atau ulama yang menggeluti ilmu kalam, yang menurutnya tingkat ini lebih dekat kepada tingkat iman orang-orang awam. Sebagai seorang tokoh dalam ilmu kalam aliran Asy’ariyah, tentu otokrikik terhadap disiplin yang digelutinya selama ini patut memperoleh perhatian sejenak. Dalam karyanya yang lain “al-Munqidz min al-Dhalal”, beliau juga menyampaikan kritik atas disiplin ini. Katanya, ilmu kalam memang bisa memenuhi tujuannya sendiri, akan tetapi ia tidak bisa memenuhi tujuan saya.

Adapun tujuan ilmu kalam adalah menjaga akidah ahlus-sunnah dari tercampur dengan faham bid’ah yang menyesatkan. Sebagai salah seorang pengikut aliran Asy’ariyah bahkan beliau dipandang sebagai tokoh pembela aliran ini yang paling berpengaruh, beliau mengakui ada sebagian kelompok yang tenggelam dan jatuh ke dalam pusaran perselisihan, mengabaikan argumentasi pihak lain. Dan keadaan ini oleh belaiau dianggap sebagai tidak member manfaat bagi orang yang tidak mau menerima selain bukti yang memberi kepastian (dharuri). Dan bukti semacam ini tidak diperoleh melalui dalil-dalil aqli maupun nakli dalam masalah iman dank arena itulah beliau masuk ke dalam kamar tasawuf guna memperoleh iman yang didasarkan atas penyaksian dan, menurutnya, iman semacam ini merupakan tingkat iman yang paling kuat disbanding dua yang pertama. Menurut Muhammad Iqbal, salah seorang pemikir modern, disiplin ilmu kalam sebagaimana diperlihatkan oleh Mu’tazillah hanyalah bermain-main dalam logika padahal kehidupan beragama tidak hanya terbatas pada bermain-main rasio untuk kepentingan pemahaman dan kognisi melainkan menuntut adanya totalitas manusia dalam beribadah.

Kita kembali kepada pembahasan mengenai penyaksian. Penyaksian (syahadah) adalah gambaran situasi di mana terjadi hubungan langsung antara manusia sebagai subyek yang menyaksikan dengan obyek yang disaksikan. Melalui penyaksian ini terjadilah pengalaman langsung yang membuat keyakinan orang tersebut mencapai tingkat haqqul yaqien karena didasarkan atas penyaksian sendiri, dan tidak hanya didasarkan atas ucapan-ucapan atau informasi orang lain. Inilah tingkat iman orang-orang muqorobin dan shiddiqien, dan dalam kelompok ini, tentu para nabi dan rasul menjadi penghuni pertama
Sebab para nabi orang yang secara langsung menerima wahyu dari Tuhan dan diantara mereka diutus menjadi Rasul untuk menyampaikan risalahNya kepada sesame manusia.

Demikian Al Ghazali membicarakan kekhasan ilmu yang ada pada Nabi, yakni ilmu yang berada di luar jangkauan panca indera akal. Beliau menyebut dengan ilmu hakekat, ilmu yang masuk ke dalam rasa (dzauq) yang dengannya seseorang bisa merasakan lezatnya merasakan ma’rifat billah. Rasa itu semacam penyaksian (dalam teks al-Ghazali, aldzauq kal musyahadah), atau dalam rumusan Syuhrawardi al Maqtul dinyatakan secara eksplisit, “man lam yadzuq lam ya’rif” artinya “barang siapa yang tidak merasa maka ia tidak mengenal atau tidak tahu”. Ini berarti di dalam rasa itu ada pengenalan dan pengetahuan. Kalau kita minum the dan menyatakan “teh ini manis”, sebenarnya yang menyatakan ini adalah rasa. Kita tahu teh ini manis melalui rasa. Demikian pula jika kita makan garam lalu menyatakan “asin” maka rasalah sebenarnya yang menyatakannya setelah rasa ini mengadakan kontak langsung dengan garam, lalu mengerti serta mengenal rasa garam, lalu membuat putusan bahwa garam itu asin. Inilah yang dikehandaki Al Ghazali sebagai pembuktian yang dharuri, pembuktian secara langsung melalui rasa. Sebuah pembuktian yang mencapai tingkat haqqul yaqien, pembuktian yang haqiqi melebihi pembuktian yang didasarkan atas penglihatan atau pengamatan (observasi), atau pembuktian yang didasarkan atas konstruk awal, atau argument-argument rasio.

Contoh ilmuan fisika-kimia punya konstruk teori yang kita kenal dengan “atom”. Konstruk teori ini merupakan simpulan setelah melalui kajian yang mendalam dan melibatkan banyak ilmuwan dalam disiplin atom, lalu disepakati bahwa atom itu terdiri dari electron (unsure negative) dan neutron serta proton (inti atom). Electron-elektron itu diyakini bergerak mengelilingi inti dengan kecepatan tinggi. Fakta atau kenyataan mengenai bagaimana electron-elektron itu bergerak cepat memang tidak dapat dilihat mata ataupun dengan bantuan alat teknologi, namun ada bukti yang menguatkan konstruk ini, missal, ketika kita menekan tombol listrik, lampu-lampu menyala, setrika berfungsi dan lain-lain. Mata kita tidak melihat electron-elektron itu bergerak pada kabel listrik mengelilingi inti atom, namun rasio kita mengabsahkan kebenaran adanya atom. Pembuktian jenis ini kit kelompokkan sebagai bukti dalam tingkat ‘ainul yaqin’ dan ‘ilmul yaqin’ (mata kita melihat bukti dan rasio kita mendeskripsikan). Namun jika kita ingin memperoleh pembuktian lebih kuat lagi, pembuktian yang mencapai haqqul yaqin, coba pegang saja kabel listrik itu dan kita akan merasakan sengatan listrik itu.

Penulis ingin menyederhanakan contoh dengan “batu”. Ketika mata kita melihat sebongkah batu, akal kita mengatakan dan percaya bahwa batu itu keras dan lebih keras dari kepala kita. Dan buktinya, ketika kita ingin tiba-tiba melihat seorang yang kepalanya tertimpa batu, ternyata kepala orang tersebut menjadi benjol-benjol. Disini kita memproleh pembuktian tingkat ‘ainul yaqin dan ‘ilmul yaqin, jika kita masih menginginkan pembuktian yang lebih kuat lagi dari dua pembuktian di atas, yakni pembuktian yang mencapai haqqul yaqin, pembuktian rasa, kita sendiri mencoba membenturkan kepala kita terhadap batu dan kita akan merasakan secara langsung betapa kerasnya batu itu.

Taken from :http://www.facebook.com/home.php?#!/?page=2&sk=messages&tid=1169523401791 Read More......

Sabtu, 03 April 2010

MANAJEMEN YANG ILLAHI





Cukup pelik dan rumit dalam memahami sebuah manajemen dalam sebuah institusi yang rumit dan pelik. bukan institusi sebenarnya yang menjadi masalah, namun SDM sebagai pelaksana manjemen kadang-kadang sering tidak memenuhi komitmen.
membangun manajemen yang Illahi dalam sebuah institusi perlu didasari hati yang iklas, jiwa yang sabar dan prinsip yang kuat didalam rasa handarbeni dan memiliki dalam sebuah institusi. menerima perbedaan sebagai suatu kewajaran, menerima keputusan dalam musyawarah sebagai komitmen yang berusaha untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

menghilangkan rasa egoisme dan menjauhkan diri dari kepentingan pribadi diatas segala-galanya.manajemen yang kaku tidak dapat menciptakan iklim institusi menjadi kondusif. perlu menempatkan dasar Qoidah dan jiwa mahabbah didalamnya sehingga mampu terbentuk jiwa-jiwa yang Hurriyah Tammah.sebagai landasan yang kokoh didalam membangun komitmen dalam sebuah manajemen.
sebagai dicontohkan oleh Drs.Mohammad hatta :
1. Ing Ngarso Sung Tuladha
2. Ing Madya Mangun Karsa
3. Tut Wuri Handayani
yang maksudnya kurang lebih " Didepan dapat memberikan contoh atau teladan, dan yang dibelakang mampu mendorong dan mendukung.
namun hal - hal tersebut diatas harus didasari dengan :
" suci kang kahesti, luhur kang ginayuh, adoh lembut jero kang tinebo, rumpil margane, akeh cobane nanging sampurno wusasane".
harus didasari dengan niatan yang suci, bersih dan iklas, sehingga perjuangan dan pengorbaannya yang dilakukan tidak terasa lagi karena hal itu dilakukan hanya dengan niatan nindakake dawuh Guru" sebagai tambahan lakon dan pitukon. namun aplikasinya harus betul-betul bersih dan iklas.
memahami sebuah manajemen yang Illahi yang berada dalam sebuah bingkai Dawuh Guru, jika dalam penerpannya ternyata keluar dari bingkai Dawuh Guru maka dapat dikatakan manajemen yang dibangun telah gagal.
Berdasarkan pengamatan dan penelitian manajeman tidak akan berjalan kondusif jika :
1. pemimpin dan yang dipimpin tidak seia sekata
2. tidak terbangun musyawarah yang efektif dan efesien
3. tidak terbangun komitmen dalam keputusan musyawarah
4. tidak mempunyai SOP yang jelas
5. Pemahaman regulasi yang cupet (cukup mepet)
6. tidak ada bimbingan dan pembinaan yang kontinu
7. belum adanya struktur yang jelas
8. sering terjadi pergantian atau perubahan secara insidental
9. sistem adminitratif yang belum memadai
10.kurangnyab didalam memahami pedoman dan qoidah yang menjadi pondasi kokoh sebuah
institusi

namun dibalik itu semua " tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa".
mudah-mudahan bermanfaat sebagai wacana yang ada.
pahamilah lingkungan disekitar anda.
jadilah SDM yang profesional, handal dan bertanggungjawab.
Read More......

My Smoke

Jarum Black

000webhost

Web Hosting

Blog Archive

Berita Terbaru

show buzzz

 

Daftar Blog Saya